Header Ads

Adab Syar’i Ziarah Kubur



by Yani Fahriansyah, S.Pd, seperti yang dimuat pada : isyhadu.com

ILMU-ISLAM.COM - Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Semoga shalawat dan salam tercurah teruntuk nabi yang diutus-Nya sebagai rahmat untuk semesta, nabi kita Muhammad, keluarga beserta segenap para sahabat beliau.
Catatan ini berisi beberapa hal tentang adab ziarah kubur yang tidak mendapat perhatian oleh sebagian kaum muslimin. Saya begitu senang menulisnya sebagai bentuk pengajaran bagi mereka yang belum mengilmui tema ini dan sebagai bentuk peringatan untuk mereka yang masih melalaikan. Ini semua sebagai bentuk nasehat untuk segenap kaum muslimin karena agama ini adalah nasehat sebagai yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Saudaraku, semoga Allah mengajarkan ilmu bermanfaat untukku dan anda sekalian. Ketahuilah bahwa tujuan ziarah kubur ada dua.[1]

Tujuan Pertama
Sebagai sarana bagi penziarah untuk mengingat kematian dan orang-orang yang telah meninggal berserta peringatan bahwa mereka, orang yang meninggal tersebut, akan mendapat balasan Surga atau Neraka. Inilah tujuan pertama ziarah kubur. Hal ini berdasarkan beberapa hadits-hadits.[2]
-Hadits pertama
Dari Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها ، فإنـها تذكركم الآخرة
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur namun sekarang berziarahlah karena itu akan mengingatkan kalian tentang perkara akhirat.” (HR Muslim dan lainnya)
-Hadits kedua
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
كنت نـهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها تُرِق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجراً
“Dahulunya aku melarang kalian berziarah kubur. Ketahuilah bahwa sekarang berziarahlah karena itu akan melembutkan hati, menjadikan mata berlinang dan mengingatkan perkara akhirat. Dan jangan kalian mengatakan sesuatu yang tidak layak (saat berziarah -pen).” (Syaikh al-Albaniy berkata ‘hadits ini dikeluarkan oleh al-Hakim dengan sanad hasan.’ Lihat Ahkam al-Janaiz, hal 228-229)

Tujuan Kedua
Manfaat untuk mayit berupa berbuat baik, salam, do’a dan istighfar untuknya. Ini untuk mayit seorang muslim saja. Ini didasari beberapa hadits, diantaranya:
-Hadits pertama:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج إلى البقيع ، فيدعوا لهم ، فسألته عائشة عن ذلك ؟ فقال : إني أمرت أن أدعو لهم
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suatu ketika keluar menuju al-Baqi’ maka beliau mendoakan mereka (para sahabat yang telah meninggal -pen).” Aisyah bertanya kepada beliau shallallahu alaihi wasallam tentang hal tersebut. Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “aku sejatinya diperintahkan untuk mendoakan mereka.” (HR Ahmad. Shahih sesuai syarat al-Bukhariy dan muslim. Hal ini disebutkan al-Albaniy dalam Ahkam al-Jana’iz, hal. 239)
-Hadits kedua:
Dari Aisyah pula berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كلما كان ليلتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج من آخر الليل فيقول : السلام عليكم أهل دار قوم مؤمنين ، وإنا وإياكم وما توعدون غداً مؤجلون ، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون ، اللهم أغفر لأهل بقيع الغرقد
“Suatu ketika saat jatah bermalam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk Aisyah, beliau shallallahu alaihi keluar di akhir malam. Beliau shallallahu alaihi wasallam lantas berdoa: “assalaamu alaika ahla dar qaumin mukminin. Wa inna wa iyyaakum wamaa tuu’adun ghadan mu-ajjalun. Wa innaa insya Allah bikum laahikun. Allahummaghfir li ahli baqi’ al-gharqad.”
“Semoga salam tercurah untuk kalian wahai penghuni kubur kaum mukminin. Kami dan anda sekalian akan mendapati sesuatu yang telah dijanjikan untuk kalian. Dan kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni kubur Baqi al-Garqad.” (HR Muslim dan lainnya) [3]

Adab-adab Ziarah Kubur


Pertama: Mengucapkan salam untuk penghuni kubur
Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa:
“Assalaamu alaika ahla dar qaumin mukminin. Wa inna wa iyyaakum wamaa tuu’adun ghadan mu-ajjalun. Wa innaa insya Allah bikum laahikun. Allahummaghfir li ahli baqi’ al-gharqad.”
“Semoga salam tercurah untuk kalian wahai penghuni kubur kaum mukminin. Kami dan anda sekalian akan mendapati sesuatu yang telah dijanjikan untuk kalian. Dan kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni kubur Baqi al-Garqad.”

Kedua:
Saat berziarah, tidak diperkenankan mengungkapkan sesuatu yang membuat Allah murka, seperti berdoa dan meminta pertolongan kepada penghuni kubur atau menyucikan dan memastikan mereka masuk Surga.
Ini didasari hadits-hadits berikut:
-Hadits Pertama
Dari Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها ، فإنها تذكركم الآخرة ، ولتزدكم زيارتها خيراً ، فمن أراد أن يزر فليز ، ولا تقولوا هجراً
“Aku pernah melarang kalian ziarah kubur maka berziarahlah karena itu akan mengingatkan kalian perkara akhirat dan hendaknya ziarah tersebut menambah kebaikan teruntuk kalian. Siapa hendak ziarah kubur maka berziarahlah namun janganlah kalian mengatakan Hujra (ungkapan yang tidak layak -pen).” (HR Muslim dan lainnya)
Imam an-Nawawiy rahimahullah mengatakan:
“Al-Hujr adalah ungkapan batil. Larangan ziarah kubur pada awalnya disebabkan dekatnya jarak para sahabat dengan zaman jahiliyyah. Mereka berbicara dengan ungkapan  jahiliyyah yang batil saat ziarah kubur. Setelah prinsip Islam ditetapkan, hukum-hukumnya dijabarkan dan rambu-rambu Islam tersosialisasikan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperbolehkan ziarah kubur bagi mereka sambil menekankan “janganlah kalian mengatakan Hujra.” [4] (Lihat al-Majmu 5/310, dalam Ahkam al-Jana-iz)
-Hadits Kedua
Dari Abu Sa’id al-Khudriy bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إني نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها ، فإن فيها عبرة ، ولا تقولوا ما يسخط الرب
“Aku pernah melarang kalian ziarah kubur namun berziarahlah karena dalam hal tersebut mengandung pelajaran. Namun janganlah kalian mengatakan sesuatu yang menjadikan Allah murka.” (HR Ahmad dan al-Baihaqiy. Al-Baihaqiy mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai kriteria Muslim. Disepakati pula adz-Dzahabiy. Keterangan ini disebutkan oleh al-Albaniy dalam Ahkam al-Jana-iz, hal 228)

Ketiga: Tidak diperkenankan membaca al-Qur’an saat ziarah kubur.
Ini dikarenakan membaca al-Quran saat berziarah termasuk hal yang tidak memiliki landasan dalil dalam as-Sunnah. Sekiranya memang disyariatkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam benar-benar akan melakukannnya dan mengajarkannya kepada para sahabatnya.
Terlebih saat beliau ditanya Aisyah radhiyallahu anha yang merupakan wanita paling beliau cintai, yaitu pertanyaan tentang hal yang mesti diucapkan saat dia, Aisyah, melakukan ziarah kubur. Lantas beliau shallallahu alaihi wasallam mengajarkan Aisyah radhiyallahu anha doa dan tidak mengajarkannya untuk membaca al-Fatihah atau surat lain dalam al-Qur’an.
Sekiranya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan sesuatu yang berhubungan dengan al-Quran, mestilah hal ini ternukilkan sampai saat ini. Namun nyatanya tidak ternukilkan sama sekali dalam riwayat/sanad yang valid. Ini menunjukkan bahwa hal tersebut, membaca al-Quran saat berziarah, tidak disyariatkan.
Di antara hal yang menguatkan tidak disyariatkannya membaca al-Qur’an saat ziarah kubur adalah hadits nabi shallallahu alaihi wasallam:
لا تجعلوا بيوتكم مقابر ، فإن الشيطان يفرّ من البيت الذي يُقرأ فيه سورة البقرة
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kubur-kubur karena syaithan sejatinya lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah.” (HR Muslim dan lainnya)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa berdasarkan ketentuan syar’i, kubur bukanlah tempat membaca al-Qur’an. Karena itu, beliau shallallahu alaihi wasallam mengarahkan agar membaca al-Qur’an di rumah, sekaligus melarang agar tidak menjadikan rumah-rumah seperti kuburan yang memang bukan tempat membaca al-Qur’an.
Oleh karena itu, mayoritas para salaf seperti Abu Hanifah, Malik dan lainnya [5] memakruhkan bacaan al-Qur’an di kuburan. Dan inilah pula pendapat imam Ahmad. Abu Daud mengungkapkan dalam Masa-il-nya, hal. 158:
سمعت أحمد سئل عن القراءة عند القبر ؟ فقال : لا
“Aku mendengar imam Ahmad ditanya tentang membaca al-Qur’an di kuburan. Lantas beliau menjawab: tidak boleh.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Ungkapan ini (kebolehan membaca al-Qur’an di kuburan -pen) tidak didapati dalam pernyataan imam asy-Syafi’i [6]. Hal ini karena itu termasuk bid’ah dalam pandangan beliau. Imam Malik berkata bahwa beliau tidak mengetahui ada seorangpun yang melakukannya. Karena itu, dipahami bahwa para sahabat dan tabi’in tidak melakukannya.”
Beliau juga berkata[7] dalam al-Ikhtiyarat al-Ilmiyyah, hal 53: “Membaca al-Qur’an untuk mayit termasuk bid’ah.”

Keempat: Tidak menghadap kubur ketika berdoa namun menghadap ke kiblat
Dalam al-Majmu’ (5/311), imam an-Nawawiy berkata:
“Imam Abu al-Hasan Muhammad bin Marzuq az-Za’faraniy berkata: ‘Dalam kitab al-Jana-iz, sebagian fuqaha mengungkapan, tidak boleh mengusap kubur dengan tangannya dan mencium kubur. Beliau juga mengungkapkan, inilah yang berlaku sesuai as-Sunnah. Beliau berkata, mengusap dan mencium kubur yang dilakukan orang awam di zaman ini, berdasarkan syar’i, termasuk bid’ah yang mungkar. Wajib menjaukan diri dari amalan tersebut dan pelakunya dilarang. Beliau juga berkata, siapa yang meniatkan salam untuk mayit hendaknya dari arah wajah si mayit dan jika ingin berdoa untuknya, ia mesti mengubah posisi lalu menghadap kiblat.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Madzhab keempat imam yaitu Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Ahmad dan imam-imam Islam lainnya berpendapat bahwa jika seseorang mengucapkan salam kepada nabi shallallahu alaihi wasallam dan hendak berdoa untuk dirinya sendiri maka ia mesti menghadap kiblat.” (al-Qa’idah al-Jalilah fiy at-Tawassul wa al-Wasilah, hal. 125)
Al-Munawiy berkata:
“Aku katakan bahwa jika doa saja termasuk ibadah agung lantas bagaimana mungkin seseorang menghadap arah selain arah yang saat shalat pun diperintahkan untuk menghadapnya? Demikian karena yang ditetapkan para ulama bahwa dalam berdoa tidak boleh menghadap arah kecuali arah yang diperintahkan dalam shalat (yaitu kiblat -pen).”

Kelima: Tidak memasuki atau berjalan di area pemakaman dengan menggunakan sandal.
Dari Amir bin al-Khashashiyyah berkata:
بينما أماشي رسول الله صلى الله عليه وسلم … أتى على قبور المسلمين .. فبينما هو يمشي إذ حانت منه نظرة ، فإذا هو برجل يمشي بين القبور عليه نعلان ، فقال : يا صاحب السبتيتين ألق سبتيتيك ، فنظر ، فلما عرف الرجلُ رسول الله صلى الله عليه وسلم خلع نعليه فرمى بهما
“Ketika aku menemani nabi shallallahu alaihi wasallam, saat beliau menuju kubur kaum muslimin, tepatnya saat beliau jalan, pandangan beliau tertuju pada suatu arah. Ternyata seorang lelaki berjalan mengenakan sandal di antara kubur-kubur. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “wahai orang yang memakai sandal, lepaskan sandalmu itu.” Lelaki itu lantas menoleh. Setelah ia mengetahui bahwa itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia lalu membuang sandalnya.” (Hadits ini diriwayatkan para pemilik sunan, termasuk hadits shahih. Lihat Ahkam al-Jana-iz, hal 173)
Telah valid bahwasanya imam Ahmad mengamalkan hadits tersebut. Abu Daud menyebutkan dalam kitabnya Masa-il, hal. 158:
رأيت أحمد إذا تبع الجنازة فقرب من المقابر خلع نعليه
“Aku melihat imam Ahmad, jika mengikuti/mengantar jenazah dan tiba di kuburan, beliau melepaskan sandalnya.”
Larangan dalam hadits di atas sebagai bentuk penghormatan kepada mayit. Ini seperti larangan duduk di atas kubur. Maka berdasarkan ini, tidak ada bedanya antara sandal/terompah dengan sandal lain yang berbulu. Ini semua sebagai bentuk penghormatan kepada penghuni kubur. Hal ini telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam Tahdzib as-Sunan (4/343-345).

Keenam: Tidak berjalan di atas kubur.
Ini didasari hadits dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَأَنْ أَمْشِيَ عَلَى جَمْرَةٍ، أَوْ سَيْفٍ، أَوْ أَخْصِفَ نَعْلِي بِرِجْلِي، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَمْشِيَ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ، وَمَا أُبَالِي أَوَسْطَ الْقُبُورِ قَضَيْتُ حَاجَتِي، أَوْ وَسْطَ السُّوقِ
“Aku berjalan di atas bara api atau pedang, atau aku ikatkan sandalku dengan kakiku lebih aku sukai daripada aku berjalan di atas kubur seorang muslim. Sama saja buruknya bagiku antara aku buang hajat di tengah kubur atau di tengah pasar.” (Dikeluarkan Ibnu Majah dengan isnad yang shahih. Ini disebutkan syaikh al-Albani dalam Ahkam al-Jana-iz, hal 267)

Ketujuh: Tidak duduk di atas kubur
Dari Abu Murtad al-Ghanawiy berkata: “Aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
لا تصلوا إلى القبور ، ولا تجلسوا عليها
“Janganlah kalian shalat menghadap kubur dan jangan pula duduk di atas kubur.”” (HR Muslim dan lainnya)
Imam asy-Syafi’i berkata:
“Aku memakruhkan/membenci berjalan, duduk dan bersandar di atas kubur. Ini dikecualikan jika seseorang tidak mendapati jalan selain kubur si mayit (atau keluarganya -pen) lalu dia bersandar karena darurat. Aku harap, dalam kondisi seperti itu, hal ini tidak mengapa. Insya Allah.” (Ahkam al-Jana-iz, hal 268)

Catatan:

Redaksi “alkarahah (makruh)” pada firman Allah, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ungkapan mayoritas ulama bermakna keharaman. Karena itu, imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Para salaf menggunakan lafaz ‘alkarahah’ sesuai dengan makna yang digunakan pada lafaz dalam firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun orang-orang di dekade belakangan ini menerapkan pengkhususan lafaz ‘alkarahah’ dengan makna “bukanlah keharaman namun meninggalkannya lebih utama daripada mengerjakannya.” Mereka lalu menyelewangkan makna para imam-imam menjadi makna-makna baru di era ini sehingga dalam hal ini mereka telah keliru. Dan hal yang lebih buruk dari hal ini, mereka memalingkan makna alkarahah atau lafaz lain yang tidak layak pada firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke istilah-istilah kontemporer.” (I’lam al-Muwaqqi’in, 1/35)
Al-Ghazaliy berkata:
“Adapun lafaz makruh adalah lafaz yang memiliki beberapa makna dalam istilah ahli fiqh. Salah satu maknanya adalah al-mahdzhur (haram -ed). Karena itu, dominan apa yang di ucapkan asy-Syafi’i “aku memakruhkan (membenci -pen) ini itu” bermakna pengharaman.” (Al-Mustashfa 1/67)

Diberdayakan oleh Blogger.