Kisah Haji Ali, Mualaf Bekas Tentara Jepang

sumber foto: .facebook


Ilmu-Islam -- Yano Sigaeru. Dialah tentara Jepang pada Perang Dunia II yang tak pulang ke negaranya. Dia memilih menetap di Masjid Tanah, Melaka, Malaysia, sebagai seorang Muslim dengan nama Haji Ali Bin Ahmad.

Semasa muda, Sigaeru menjadi pasukan Jepang yang melakukan ekspansi ke wilayah Asia Tenggara. Selama 8 tahun dia mengabdi sebagai kekuatan militer negeri Matahari Terbit itu. Hingga berakhir perang tahun 1943.

Setelah perang itu, Sigaeru memilih menetap di Melaka. Dia enggan pulang ke kampung halaman. Di tanah rantau itu, dia mulai hidup sebagai jelata dengan membuka toko sepeda.

“ Tak ada modal untuk memulai toko sepedaku, Anda tahu,” kata Sigaeru, dalam video dokumenter yang diunggah ke Facebook oleh akun Friends of BN, dikutip Dream pada Senin 11 April 2016.

Sebagai bekas tentara penjajah, tentu tak gampang hidup di tengah masyarakat yang masih bergejolak. Sebab, banyak orang yang memusuhinya, meski ada beberapa orang yang baik. Salah dalam bertindak, nyawa menjadi taruhannya.

“ Jika aku melakukan apapun yang fatal aku bisa terbunuh dengan cepat,” kata Sigaeru. “ Orang China,” tambah dia, “ sangat membenci kami. Meskipun hanya keributan kecil, bisa membuatku terbunuh.”

Menurut dia, separuh orang yang hidup di Bumi Melayu –yang sekarang disebut Malaysia– membenci Jepang. Namun separuh lainnya bersikap baik. “ Hanya sedikit yang baik. Orang religius baik,” kata dia.

Sigaeru menambahkan, di antara orang-orang yang baik itu adalah masyarakat Muslim. Dari gurunya, dia tahu bahwa orang Muslim sangat baik. “ Apakah Anda kagum mengapa aku tetap tinggal dengan semua masalah ini?” tanya dia.

“ Semua itu karena Muslim. Aku tahu Anda tahu orang Muslim. Apa yang mereka yakini,” kata Sigaeru.

Dia mengaku sangat kagum dengan Alquran. Kitab suci umat Muslim. Kitab dengan bahasa Arab itu, kata dia, bukanlah buatan manusia. Bukan karangan manusia.

“ Allah menulisnya. Allah berfirman jika manusia hidup sebagaimana tertulis di dalam kitab, maka kita akan hidup dengan bahagia.”

Hidup di Melaka itu telah banyak memberinya pelajaran hidup. Terutama bagi rohaninya. “ Orang Jepang bekerja keras dan tahan banting. Selalu mencapai satu tujuan. Tapi sebagai orang religius, kami sangat miskin.”

Sigaeru sangat bersyukur bertemu dengan gurunya yang merupakan seorang nelayan. Dari sang guru itulah dia banyak menerima pelajaran hidup, terutama nilai-nilai agama. “ Sehingga aku mengikuti dia dan menjadi Muslim.”

Dan saat ditanya apakah ingin pulang ke Jepang, dia menjawab, “ Jika aku punya uang untuk pulang ke Jepang, aku akan pergi ke Arabia. Di Arabia, aku dengar ada tempat ibadah besar umat Muslim. Ya Mekah.”

Di negeri orang itulah Haji Ali hidup hingga penghujung usia... (Ism)

Sumber: dream.co.id
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==