Ta’aruf Menurut Islam

ILMU-ISLAM.COM - Taaruf adalah kegiatan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan dengan penghuninya. Taaruf dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan dua keluarga yang akan menjodohkan salah satu anggota keluarga. Taaruf dapat pula dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke pernikahan. Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf berbeda dengan pacaran.

Taaruf secara syar'i diperintahkan oleh Nabi Muhammad bagi pasangan yang ingin menikah.Perbedaan antara pacaran dengan taaruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Menurut Islam, pacaran dianggap sebagai kesenangan yang tidak berlangsung lama, dan dianggap jalan menuju perbuatan zina dan maksiat. Islam telah mengajarkan cara yang tepat untuk pengenalan atau pendekatan terhadap calon pasangan, yaitu dengan ta’aruf. Beberapa orang mengatakan bahwa taaruf merupakan gaya berpacarannya orang islam. Benarkah demikian? Lalu seperti apakah ta’aruf menurut islam itu sebenarnya?



Proses Ta’aruf

Di atas telah dijelaskan bahwa tujuan seseorang melakukan taaruf adalah untuk bersilaturami dengan maksud untuk lebih mengenal penghuni rumah, dan tujuan dari perkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh.

Dalam sebuah hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Sanad Hasan, Rasulullah Sallalluhualaihi wassalam telah bersabda yang artinya:


“Jika salah seorang diantara kalian hendak melamar seorang wanita dan mampu melihat (tanpa sepengetahuan wanita tersebut), bagian dan anggota tubuh wanita tersbut, sehingga bisa menodorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.”

Jadi kapan proses ta’aruf boleh dilakukan?

1. Kesiapan Lahir dan Bathin

2. Keputusan yang siap

Lalu bagaimana tata cara proses ta’aruf yang syar’i menurut ajaran agama islam?

Ta’aruf merupakan langkah untuk mendapatkan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warohmah. Untuk itu diperlukan kiat-kiat islami sebelum seseorang memutuskan untuk menikah, seperti:

· Meminta petunjuk kepada Allah dengan melakukan sholat istiqoroh dengan sekhusyuk-khusyuknya dan dengan niat yang tulus. Jika benar-benar hati telah mantap dan siap untuk menikah, maka segeralah mengajukan diri untuk melakukan ta’aruf.

· Menentukan jadwal pertemuan antara ikhwan dan akhwat. Akan tetapi dalam pertemuan nantinya, kedua belah pihak harus didampingi oleh pihak ketiga, misalnya keluarga atau wali yang dipercayai.

· Dalam pertemuan antara ikhwan dan akhwat, kedua belah pihak boleh mengajukan pertanyaan apa saja terkait kepentingan masing-masing yang nantinya akan digunakan sebagai pertimbangan sebelum memutuskan untuk memilih calon pasangan tersebut. Dalam melakukan tanya jawab, kedua belah pihak harus tetap memperhatikan adab serta etika yang ada.
Hal ini bertujuan agar kedua belah pihak lebih mengenal calon pasangannya tersebut mulai dari kepribadian, fisik, maupun latar belakang keluarga masing-masing untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. Jadi dalam berta’aruf janganlah terburu-buru menjatuhkan cinta, akan tetapi dalamilah hal-hal yang yang terkait dengan calon pasangan.

· Jika dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak telah merasa saling cocok, maka dapat dilakukan proses selanjutnya yaitu melakukan ta’aruf dengan pihak keluarga si akhwat maupun dengan keluarga si ikhwan dalam waktu yang telah disepakati sebelumnya.

· Yang menjadi salah satu syarat dari proses ta’aruf secara syar’i islami adalah tidak boleh menunggu. Artinya tidak boleh ada jarak antara proses ta’aruf dengan pernikahan.
Misalnya saja si akhwat harus menunggu selama beberapa waktu karena si ikhwan harus bekerja atau menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu. Kondisi tersebut akan dapat mendzalimi pihak akhwat karena harus menunggu dan tidak ada jaminan bahwa selama waktu menunggu tersebut tidak ada godaan yang mengganggu.
Jadi, setelah terjadi kesepakatan di antara keluarga, maka langkah selanjutnya adalah menentukan waktu khitbah(melamar / meminang). Proses khitbah bisa dilakukan secara langsung kepada si wanita maupun disampaikan kepada walinya.

Adab Ta’aruf

Dalam melakukan taaruf pihak ikhwan maupun akhwan harus tetap memperhatikan adab-adab seperti:

1. Menjaga pandangan

2. Menutup aurat : Bagi seorang wanita muslimah, apabila ia sedang bertemu dan berbincang dengan laki-laki yang bukan mahramnya maka ia harus menutup auratnya. Dalam Q.S. An-Nur ayat 31, Allah SWT telah berfirman, yang artinya

“… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ….”

3. Memiliki sikap yang tenang, sopan dan serius dalam bertutur kata

4. Menghindari hal-hal yang tidak perlu dalam pembicaraan

5. Didampingi oleh keluarga atau wali yang dipercayai

6. Selalu ingat allah
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==